1. Guru
Guru
Jasamu sangatlah mulia.
Setiap hari tanpa mengenal lelah.
Mengajarisampai kami bisa.
Guru
Jasamu tiada tara
Untuk membuat siswa mu mencapai cita.
Guru
Kau memang pahlawan tanpa tanda jasa…
Parafrase
Guru jasamu sangatlah mulia,tanpa
mengenal lelah dari pagi sampai siang kau mengajari sampai kami sampai bisa.
Jasamu sungguh tiada tara, engkau membuat kami dapat mencapai cita-cita.
engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa..
2. Selamat Tinggal
aku berkaca
ini muka penuh luka
siapa punya?
kudengar seru menderu
dalam hatiku
apa hanya angin lalu?
lagu lain pula
mmenggelepar di tengah malam buta
ah…!!!
segala menebal, segala mengental
segala tak kukenal
(Chairil Anwar)
Parafrase
:
Ketika akuberkaca, aku melihat
mukaku mulai dipenuhi luka. Sebenanya ini punya siapa?
Aku mendengar suara yang menderu.
Dalam hati aku bertanya, apakah itu hanya suara angin lalu?
Aku juga mendengar lagu yang
lainnya yang menggelepar di tengan malam buta.
Ah,…!!
Semua telah menebal, bahkan
segalanyapun jadi mengental, sehingga segalanya tidak aku kenal lagi.
3. Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Parafrase
:
Aku hanya ingin mencintaimu dengan
sederhana. Tak ada lagi kata yang dapat aku ucapkan
Bagaikan kayu dan api yang membakar
kayu sampai membuatnya menjadi abu.
Dengan isyarat mengerti satu sama
lain yang tak sempat aku sampaikan. Tetapi ada yang ku takuti atas rasa ini
yang tak akan sempat disampaikan kepadamu. Awan hitam nampak terlihat memberi
tanda kepada hujan yang akan turun kemudian menjadikannya tiada. seperti sebuah
harapan bohong untuk mencintaimu
4. Malam
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
– jagal tidak dikenal ? –
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
Parafrase
Aku merasa hari mulai kelam
Tapi belum
juga sampai buntu malam
kamipun masih berjaga-jaga di sini
Thermopylae kah itu? Atau malah
Si jagal yang
tidak dikenal ?
Tapi lihat saja nanti
Sebelum siang datang dan membentang,
Mungkin kami
sudah tenggelam dan hilang dari peradaban
5. Monumen Bambu Runcing – Wiji Thukul
monumen bambu runcing
di tengah kota
menuding dan berteriak merdeka
di kakinya tak jemu juga
pedagang kaki lima berderet-deret
walau berulang-ulang
dihalau petugas ketertiban
Parafase:
Monumen bambu runcing yang terletak
Di tengah kota tua
Patung itu masih tetap berdiri tegak, meski
sendirian dia terlihat menuding dan berteriak lantang “merdeka”!
Di sana, kaki monumennya tak jemu juga
Para pedagang kaki lima terlihat berderet-deret saja
di sepanjang jalan
Meskipun berulang-ulang mereka
Dihalau petugas ketertiban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar