Selasa, 21 Januari 2020

Kumpulan Puisi dan Parafrasenya


1.      Guru

Guru
Jasamu sangatlah mulia.
Setiap hari tanpa mengenal lelah.
Mengajarisampai kami bisa.
Guru
Jasamu tiada tara
Untuk membuat siswa mu mencapai cita.
Guru
Kau memang pahlawan tanpa tanda jasa…

Parafrase
Guru jasamu sangatlah mulia,tanpa mengenal lelah dari pagi sampai siang kau mengajari sampai kami sampai bisa. Jasamu sungguh tiada tara, engkau membuat kami dapat mencapai cita-cita. engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa..

2.      Selamat Tinggal

aku berkaca

ini muka penuh luka

siapa punya?

kudengar seru menderu

dalam hatiku

apa hanya angin lalu?

lagu lain pula

mmenggelepar di tengah malam buta

ah…!!!

segala menebal, segala mengental

segala tak kukenal

(Chairil Anwar)

Parafrase :
Ketika akuberkaca, aku melihat mukaku mulai dipenuhi luka. Sebenanya ini punya siapa?
Aku mendengar suara yang menderu. Dalam hati aku bertanya, apakah itu hanya suara angin lalu?
Aku juga mendengar lagu yang lainnya yang menggelepar di tengan malam buta.
Ah,…!!
Semua telah menebal, bahkan segalanyapun jadi mengental, sehingga segalanya tidak aku kenal lagi.

3.      Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikanya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Parafrase :
Aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana. Tak ada lagi kata yang dapat aku ucapkan
Bagaikan kayu dan api yang membakar kayu sampai membuatnya menjadi abu.
Dengan isyarat mengerti satu sama lain yang tak sempat aku sampaikan. Tetapi ada yang ku takuti atas rasa ini yang tak akan sempat disampaikan kepadamu. Awan hitam nampak terlihat memberi tanda kepada hujan yang akan turun kemudian menjadikannya tiada. seperti sebuah harapan bohong untuk mencintaimu

4.      Malam

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
– jagal tidak dikenal ? –
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Parafrase
Aku merasa hari mulai kelam
Tapi  belum juga sampai buntu malam
kamipun masih berjaga-jaga di sini
Thermopylae kah itu? Atau malah
Si  jagal yang tidak dikenal ?
Tapi lihat saja nanti
Sebelum siang datang dan membentang,
Mungkin  kami sudah tenggelam dan hilang dari peradaban

5.      Monumen Bambu Runcing – Wiji Thukul

monumen bambu runcing
di tengah kota
menuding dan berteriak merdeka
di kakinya tak jemu juga
pedagang kaki lima berderet-deret
walau berulang-ulang
dihalau petugas ketertiban

Parafase:
Monumen bambu runcing yang terletak
Di tengah kota tua
Patung itu masih tetap berdiri tegak, meski sendirian dia terlihat menuding dan berteriak lantang “merdeka”!
Di sana, kaki monumennya tak jemu juga
Para pedagang kaki lima terlihat berderet-deret saja di sepanjang jalan
Meskipun berulang-ulang mereka
Dihalau petugas ketertiban.

Jumat, 17 Januari 2020

Cerpen Horor Remaja


1.      13 Friday

Cerpen  karangan: Siti Shobihatul Muyassaroh(Mayy'De 69)
Kategori: Cerpen Horor (Misteri), Cerpen Remaja

13 FRIDAY

12 Desember 2013
Kamis sore
Seperti biasa, saat itu aku sedang berada dirumah menikmati hari akhir libur sekolahku dengan keadaan rumah yang sedikit berbeda, terasa sunyi dan sedikit terasa hampa karena hawa dingin dari gerimis yang melanda kotaku sejak siang tadi.
Melihat keadaan sekeliling ku tiba-tiba aku menjadi kembali teringat kata-kata dari beberapa temanku disekolah bahwa seindah apapun rumahmu tetap saja akan terasa menyeramkan jika sedang sunyi. Benar saja aku mulai sedikit gelisah sekarang.
Aku tak mengetahui mengapa ruangan  ini mendadak sepi layaknya rumah tak berpenghuni. Seperti tak wajar saja karena kenyataannya aku berada dirumah ini tidak sendirian, aku masih ditemani kedua teman absurdku. Memang sih tak ada orang lain lagi selain mereka dan kebetulan ayah serta ibuku sedang tak ada di rumah karena menghadiri acara pernikahan dari salah satu anak kolega ayahku. Ku dengar-dengar ia bernama roje, oje, oca atau siapalah itu, aku lupa namanya.

"Serius sekali mereka..." Batinku saat aku sesekali melirik kearah dua temanku yang entah mengapa menjadi diam sejak beberapa puluh menit yang lalu. Namun ku dapati pula mereka masih saja betah memelototi layar komputer ku. Aku berharap saja mata mereka tidak lepas nantinya.
Aku sendiripun sebenarnya sedikit merasa aneh dengan tingkah mereka yang tak biasa itu. Bagaimana bisa mereka serius sekali menatap layar komputer ku tanpa berniat sedetikpun untuk berpaling? Biasanya mereka paling senang sekali membuat keributan hanya dikarenakan hal-hal kecil seperti ribut berdebat masalah tentang editan format font yang salah satu dari mereka tidak menyukainya namun tetap kekeh untuk dipertahankan atau malah ribut protes dengan ekspresi wajahku yang kadang terlihat lucu didalam video itu.

"Ehh.. rain!! raiinn!!." Tiba-tiba saja jenny mengguncangkan tubuhku tidak santai.

Perlakuannya itu telah sukses mengagetkanku yang sempat asik berselancar di media sosial menggunakan ponsel pintar ku.

"Apaan sih jenn!!" Tukasku sedikit ngegas karena memang dia menyebalkan sekali.
Baru saja aku mengatakan mereka tidak berisik namun belum selesai aku menutup mulutku mereka sudah membuat keributan yang aku sendiripun tak tau apa penyebabnya.
"Rain.. sini deh buruann!!" Kali ini rima yang melambaikan tangan kearahku mengisyaratkan aku untuk menghapiri nya, namun yang membuatnya terlihat cukup aneh ia masih tetap saja fokus pada layar komputer ku menatap video yang ia pause sebelumnya.
"Lama deh.. lolak banget sih!!" Jenny yang terkenal anak paling tidak sabaran kini menarik tubuhku secara paksa dan membawaku mendekati meja komputer yang berada tak jauh dari ranjang tempatku duduk sebelumnya.
"Kenapa? Udah selesai ngeditnya?" Tanyaku polos begitu duduk di kursi yang sempat jenny tempati awal tadi.
"Ya belum lah.. lu pikir gampang apa ngedit beginian?!." Jawab jenny nyolot nggak jelas.
Padahal tujuanku bertanya pada rima tadi. Tapi kenapa yang jadi emosi jenny? Aneh dehh! Jarang emang spesies manusia cungkring yang nyolotannya banget kayak dia!.
"Terus ngapain manggil-manggil coba?." Balasku sedikit kesal.
Muak saja dengan mereka. Padahal sebelumnya aku mengatakan bahwa aku ingin istirahat karena diriku sedang tidak enak badan. Namun kenyataannya seolah mereka itu tak mengizin kan ku untuk beristirahat. Mustahil memang jika mengharapkan  manusia-manusia seperti mereka ini untuk tidak menggangguku.
"Ih emang ya ni or-"
"Ribut aja terus ya! Gue tampol nih orang lama-lama!!." Jenny tiba-tiba terdiam mendapati ancaman dan tatapan dingin dari rima yang sudah dalam 'evil' mode on.

Aku dapat melihat rima yang berubah menyeramkan dengan aura disekitar tubuh rima yang berubah menjadi gelap bahkan kini berwarna hitam pekat. Untuk duduk sedekat ini dengannya sudah cukup membuatku merinding dan ingin ngacir kabur begitu saja akibat sikap rima yang tergolong jarang sekali marah. Dan kejadian langka seperti ini aku hanya akan melihatnya sekali dalam sebulan dengan mood rima seperti itu atau bahkan tidak sama sekali.
"Udah ributnya?, sekarang coba deh rain, kamu perhatiin baik-baik video ini." Atensiku kini beralih pada video yang rima putar kemudian.
Aku dapat melihat diriku berdiri ditengah hiruk-pikuk orang berjalan dengan memegang sebuah mic kecil berwarna hitam. Video itu mengingatkan ku pada beberapa hari lalu. Kebetulan itu bertepatan pada hari festival kuliner yang diadakan di kotaku dan disitu aku, rima dan jenny memutuskan untuk membuat video vlog baru untuk ku unggah dicannel YouTube kami.
"Hai gaes.. sampai disini saja ya perjanan kita hari ini. Sebelum mengakhiri video ini saya ingatkan jangan lupa comment dan klik ikon tanda jempol keatas jika menyukai video ini karena satu like dari kalian merupakan tanda dukungan dan dorongan semangat kalian untuk kami dalam membuat konten-konten selanjutnya."
"Dan bagi kalian yang baru menonton video... ini jangan lupa untuk subscribe dan nyalahkan tombol lonceng kalian agar tidak ketinggalan video-video menarik kami berikutnya... Saya rainnara sinb beserta kru lainnya mengucapkan terimakasih telah menonton video ini sampai akhir... Bye bye.. anyeong..."

Klik..
Aku melihat rimapun mematikan potongan videoku yang ia putar barusan.
Aku terdiam sejenak setelah menonton video itu. Aku berusaha mencari apa yang sebenarnya rima dan jenny ingin tunjukan padaku, namun hasilnya nihil. Otak dan mataku tak cukup jeli untuk mencari dimana letak permasalahan, apalagi keanehannya. Hanya saja yang aku tau bahwa video itu masih original, aku berani bertaruh kalau video itu sama sekali belum diedit sedikit pun oleh rima selaku editorku, itu saja.

"Bagaimana?." Tanya rima padaku, dengan hanya melihat sorot mata dan mendengar nada bicaranya saja aku sudah tau rima saat ini sedang serius padaku.
"Apanya yang bagaimana?." Tanyaku balik.
Heran. Aku masih bingung dan tak faham maksud dari rima yang satu ini.
"Ck.. videonya lah rain!!..." Sahut jenny yang sempat diam dan asik menikmati posisi berdiri sambil berkacak pinggang karena memang nggak kebagian kursi itu kini mulai bersuara lengkap dengan nada sewot khasnya.
"Ohh videoku? Ya jelas kerenlahh.. cantiikkk... Rainn gitu lohhh.." jawabku sekenanya, menegakkan duduk sambil sesekali mengibaskan rambut cokelat panjangku penuh percaya diri.

Pletakkk..
"Emang yah ni orang dodol bangett sihh ya ampun!!" Bukan, itu bukan rima. Rima tak sekasar itu padaku.

"Apaan sih jen.. mukul-mukul kepala orang, sakit tau!!" aku menatap tajam kearah jenny dengan terus berusaha membalas perbuatannya barusan. Muka jenny memerah padam serta ikut melotot kearahku, dan aku merasa ia bahkan lebih marah dari pada diriku. Bagaimana bisa? Pelecehan dalam hubungan pertemanan ini namanya! Harusnya aku yang marah. si cungkring gila satu ini benar-benar sukses membuatku emosi. Aku tak habis fikir, mana ada sih manusia seperti dia? dasar anaknya pak mahmud!!

"Bisa nggak jangan berisik jenn?.." lerai rima memutar bola matanya malas, aku sempat berfikir mungkin dirinya terlalu bosan menghadapi sikapku dan jenny yang tergolong tidak pernah akur.

"Kok aku sihh rim?.." jawab jenny berusaha membela.

"diem nggak?!"

"Iihh.. tapi kan rim.."

"Diemm.."

"....."
Untuk beberapa saat aku memilih diam dengan terus mengelus kepala keyanganku yang terasa nyut-nyutan.  Kemudian aku mulai menyadari satu fakta setelah lama hidup bertahun-tahun dibumi. Bahwa hanya rima dengan tatapan dinginnya lah yang mampu membungkam mulut berisik jenny. Tidak dengan kedua orang tuanya, tidak dengan kakaknya dan tidak sekalipun juga dengan saudara-saudaranya, apalagi dengan diriku.

"Iisshh.. apasih nyenggol-nyenggol!!!.."
"Elu sendiri ngapain juga deket-deket ama gue sih!." Dan terjadilah adegan saling senggol antara diriku dan jenny.
"Nggak usah banyak berantem deh, liat kalian yang kayak gitu terus aku lama-lama jadi pengen jodohin kalian tau?." Tak habis pikir aku akan ucapan rima, aku mulai ragu sebenarnya apa saja isi otak cerdas rima selama ini.
"Amit-amit rim amit-amit!! Najiss.."
"Aku serius rain.." Rima menatapku datar yang masih terus saja komat-kamit. Jadi dugaanku memang benar kalau selama ini ada sesuatu tak beres yang berserang didalam kepala rima.
Gila aja aku dijodohin sama perempuan.
"Nah... kalo kalian diem gini kan enak. ok, sekarang balik lagi kelayar."
"Rain, sekarang kamu lihat ini baik-baik. Lihat kamu yang ada disini, lihat juga orang yang disekitar kamu dan lihat payung yang ada dibelakangmu itu." Tunjuk rima. Rima mencoba untuk mem pause kembali video tadi dan membuat lingkaran merah tepat pada bayang ku. Kemudian tak lama dirinya juga membuat lingkaran yang lain namun berwarna putih di bayangan orang dan benda-benda lain selain diriku.
Aku termenung sesaat memperhatikannya penuh konsentrasi. Berusaha berfikir kritis dan jeli. Tak butuh waktu lama...

Satu yang membuat jantungku sempat berhenti sejenak karena terkejut. Tenggorokanku tercekat tak mampu berkata-kata. Bagaimana bisa? Aku melihat bayangan matahari diriku yang memiliki tempat paling berbeda arah diantara mereka. Aku berusaha mengedipkan mataku beberapa kali untuk memastikan, dan itu benar adanya.

"Udah faham kan?." Ujar rima menyadarkanku dari lamunan.
"Rim.. nggk usah bercanda deh.. nggak lucu!" Aku berusaha untuk memikirkan kemungkinan lain yang terjadi dan salah satu kemungkinan itu adalah rima kini tengah mengerjaiku.
"Kamu lihat aku bercanda rain? Nggak kan?."
"Efek sudut pengambilan kamera kalii, gimana jen?, kamu kan kameramannya. Jadi kamu tau dong haha... " Tukasku lagi, aku berusaha untuk tertawa agar sedikit meredakan rasa gugup ku yang sudah tak terbendung lagi.
"Rainn.. kita nggk becanda rainn.. kita serius, pikir rain.. pikir ..." kali ini jenny menatap kearahku, berbeda dengan tadi. Dari matanya aku dapat melihat dirinya mulai khawatir padaku.
"Dua hari lalu kita ngambil video ini tepat jam tiga sore. Itu artinya bayangan akan lari kearah kanan. Seperti yang kamu lihat itu rain.. dimenit 00:00-50:29 semua bayangan benar berada disebelah kanan. Tapi lihat dimenit-menit 50:33 - 50:38 ini, itu berarti jam sudah setengah 5 sore dan jika itu benar adanya, bayangan hanya bergeser beberapa derajat dari kamu berdiri tadi rain. Jika itu efek dari pengambilan kamera yang sama sekali tidak membelakangi matahari, bayanganmu juga nggak akan tepat berada dibelakangmu rainn... Nggak akan!." Kali ini rima menjelaskan padaku singkat jelas dan padat. Setiap ucapannya penuh penekanan, kali ini aku percaya rima tak akan berbohong padaku.
Mendengar penjelasan rima barusan aku kembali termenung, entah apa yang aku fikir kan. Tak masuk akal memang, bagaimana bisa bayangan melawan matahari?.

Aku mencoba menarik nafasku dalam-dalam. Tak apa, ini tak seburukn itu, toh hal-hal aneh dan kejadian supranatural seperti itu sudah biasa terjadi? Biarkan saja, buang semua fikiran negatif rainn!.

"Jadi gimana rain? Mau tetap diupload?" Tanya jenny terlihat memasarkan semuanya padaku.
"Sudahlah, jangan terlalu difikirkan. Yah, memang terlihat creepy sih bagi mereka yang menyadarinya nanti." Jawabku sekenanya.
"Kamu yakin? Tapi Rain.. kata leluhurku itu pertanda buruk." Ujar jenny menambahkan.
"Buruk apa sih? Kamu mengharapkan hal buruk terjadi padaku? Jaman sekarang jangan terlalu memercayai mitos ahh!." Tukasku sedikit tersulut emosi, yang benar saja mereka melebih-lebihkan hal seperti itu? Lagi pula aku yakin jika umurku masih terlalu panjang hanya untuk sekedar melewati hari esok.
"Kita batalkan saja project ini, kita bisa membuat video lain."
"Rima benar rainn.." tambah jenny kemudian dan mereka saling bertatapan layaknya kekasih. Uhh.. menjijikan sekali.
"Yang benar saja kalian? Besok adalah waktu kita harus mengupload video. Kalian harus ingat itu. Aku nggak mau kita lewat dari jadwal mingguan yang udah kita tentuin sebelumnya."
"Rain.. kita bisa saja membuat permohonan maaf.. aku punya firasat yang nggak baik."
"Jangan mengkhawatirkan diriku, kita bisa saja mengcut bagian tadi.. jangan buang-buang waktu dan biaya. Percayalah, tak akan terjadi apa-apa padaku." Aku tersenyum pada mereka dan merangkul kedua temanku ini hanya untuk sekedar meredakan rasa khawatir mereka yang cenderung berlebihan.


13 Desember 2013

Jum'at pagi.
Aku melangkahkan kakiku perlahan memasuki gerbang lengkap dengan payung putih ditanganku. sempat aku ingin berjalan masuk namun ku urungkan sejenak hanya untuk membaca tulisan "SMA NUSA BANGSA" berwarna emas yang tercetak besar-besar dihadapanku ini.

"Silahkan masuk neng.." ucap lembut pria paruh baya dengan setelan penjaga sekolah itu.
Kulihat ia tengah memegang sebuah kardus kira-kira  berukuran 30cm x 25 cm. Entah apa itu isinya, yang jelas nggak mungkin kepala orang kan?.
"Iaa pak makasih..." Balasku tersenyum manis padanya.

Saat memasuki pekarangan sekolah aku merasa seperti disambut oleh angin asing yang sengaja menerjang tubuhku sampai-sampai membuat rokku sedikit basah terkena bulir gerimis dari hujan yang dibawanya.
Aku berusaha mengabaikan itu semua dan terus berjalan menuju kelas. Diperjalan aku sempat mengedarkan pandanganku melihat keadaan sekitar pekarangan sekolah yang tak jauh berbeda dari rumahku kemarin. Hanya ada beberapa murid yang berjalan menuju area kelas. Sekolah yang biasanya akan terlihat ramai kini terasa sepi, sangat dingin dan gelap dibeberapa sisi.

"Haii caa.. lagi ngapain?" Begitu sampai selasar aku mendapati ica teman sekelasku yang tengah berdiri termenung dipagar pembatas. kebetulan kelasku memang berada dilantai 3 dan menghadap kearah lapangan basket.
"Hah? Ahh.. nggak ngapa-ngapain kok." Ucap ica sedikit terkejut akan kehadiranku lalu tetap berusaha tersenyum yang malah terlihat sangat menyedihkan bagiku.
Aku tak sengaja melihat tangan kirinya meremas kuat sebuah kertas, entah apa isinya aku sendiripun tak tau, sikapnya barusan membuatku mulai berfikir bahwa ia tidak baik-baik saja, pasti ada sesuatu.

"Kamu ada masalah?." Tanyaku lagi berusaha mendekat dan menyentuh pundak milik siswi kelas 12 SMA ini yang memang terkenal pendiam dan tertutup dikelas.
"Makasih.. aku mungkin baik-baik saja."
"Yakin? Jangan bohong."
"Iya rain.. udah sana taruh tas kamu dulu."
"Oh iya lupa hehe.. aku masuk dulu ya, entar aku balik lagi kok." Aku hendak pergi namun kuurungkan sebab ada sesuatu yang mengganjal namun tak kuketahui apa.
"Hmmm, ca.. kalo ada masalah cerita sama aku ya, aku pasti bantu kok jangan sungkan." sambungku lagi sambil menepuk-nepuk pundaknya.
Akupun meninggalkan Ica didepan kelas untuk meletakan tasku. Entah mengapa kata-kata ica tadi terus terngiang-ngiang ditelingaku.

"Mungkin?" Batinku masih berusaha mencerna ucapannya.
Akibat memikirkan ica aku malah jadi melamunkan hal-hal tak jelas kearah yang entah-berantah. Namun, lamunanku itu tak bertahan lama sampai suara benda jatuh dari arah luar mengagetkanku.

Greesakkk...
Bbrruuuggkkk...
Entah mengapa jantungku tiba-tiba berdegub dengan kencang. Akupun berlari keluar mencari Ica namun nihil. Tak kudapati siapa-siapa, selasar kelas kosong, Ica tak berada ditempatnya.

Uuuuaaaaaaa...
Aaaaa... AAaaaa……
Mendengar teriakan histeris beberapa siswi diarah bawah lapangan basket membuat atensiku beralih kesana. Aku menurunkan pandanganku kebawah dan.._.

Degg..
Aku merasa jantungku seolah berhenti. Dadaku sesak seolah dihatam beribu-ribu batu.
Aku melihat ica sudah terkapar tak bernyawa dipenuhi darah segar yang sudah mengalir kemana-mana akibat terkena air dari rintik hujan yang turun sejak tadi. Sendi tangan dan kakinya terputar kebelakang, aku tau itu pasti patah, dan yang paling mengerikan lagi aku melihat kepalanya hancur sampai memperlihatkan 'isi' kepalanya.
Icaa.. iccaaa.. hatiku seolah memanggil namanya tiada henti. Ketidak percayaan menggerogoti isi otakku. Beberapa menit lalu baru saja aku berbincang padanya, kenapa ini bisa terjadi? Aku berusaha menguatkan diriku dan berlari menuju lapangan basket yang ternyata sudah mulai dipenuh siswa-siswi, beberapa guru, dan penjaga sekolahan. Tak lama dari itu datang pula mobil ambulance dan 5 orang polisi yang langsung membuat police line untuk mengamankan TKP.


Jam istirahat
Setelah kejadian mengerikan yang membuat seluruh sekolah heboh tadi pagi, pihak sekolah memutuskan untuk tidak mengadakan kegiatan pembelajaran pada pagi hari. Suasana duka.
Aku dan beberapa mahasiswi bersangkutan pun tadi sempat dipanggil pihak kepolisia untuk ditanyai beberapa pertanyaan perihal investigasi kasus Ica. Tak seperti yang lain, aku satu-satunya orang yang tak terkejut karena aku memang menjadi salah satu saksi yang sempat berbicara padanya tadi pagi.

"Heiii.. masih betah untuk melamun?" Suara jenny kini mengambil atensiku. Ia terlihat mengambil tempat duduk disampingku.
Aku menatap Jenny sejenak tanpa berniat untuk menanggapinya lalu beralih mengedarkan pandanganku kepenjuru kelas yang terlihat kosong.
“Mungkin mereka berada dikantin”. batinku.

"Sudahlah Rainn.. apa yang ingin kau cari lagi? Jangan terlalu memikirkannya. Biarkan dia tenang." Sambung jenny kemudian.
Entahlah, ucapan Jenny barusan malah membuat suasana hatiku semakin memburuk. Memang aku tak begitu dekat dengan Ica, apalagi sampai tahu apa yang selama ini ia lewati, yang pasti ia telah mengalami hidup sulit sampai memutuskan untuk bunuh diri seperti ini.

Hhuuff...
Mengingat itu semua ada perasaan bersalah yang mulai muncul dalam hatiku. Harusnya aku tadi membawanya masuk kekelas. Jika saja sejak awal aku peka padanya hal itu mungkin tak akan terjadi.  Bodohnya aku membiarkan dirinya sendirian.

Arrrgghh...
Aku mulai mengacak rambutku frustasi tak tahan. Kepalaku sakit, rasanya ingin meledak. Sejak pagi tadi otakku hanya dipenuhi Ica, Ica dan Ica lagi.

"Raiinnn..." Rima yang sejak tadi duduk tenang dibalakangku kini berjalan kearahku dan memelukku erat.
"Jangan seperti ini, kau membuat kami khawatir..." Lanjut Rima mengusap kepalaku lembut. Pelukan hangatnya membuatku tak dapat lagi membendung air mataku yang kutahan sejak tadi. Menangislah aku sejadi-jadinya dipelukan dua sahabatku ini.



Setelah beberapa waktu meluapkan emosiku dengan cara menangis hatiku mulai merasa lega. Ini terasa lebih baik meskipun masih sedikit terasa sesak dan aku harus berusaha sebaik mungkin untuk menutupinya.

"udah puas nangisnya?." Tanya jenny yang melihatku mulai tenang namun masih berada dalam rengkuhan Rima.

Aku mengangguk sebagai balasan.

"Berjanjilah pada kami untuk tidak menangis lagi setelah ini!." Ujar Rima menurunkan wajahnya menatapku sambil menunjukan jari kelingkingnya.
Mendapati sikap manis Rima barusan akupun tersenyum dan menautkan jari kelingkingku sebagai tanda  janji.

"Terimakasih.." ujarku singkat penuh makna.
"Jangan kayak tadi lagi. Loe itu malah kelihatan kayak orang gila. Bikin kita khawatir tau nggak? Dasar!" Ucap jenny kembali pada sifat kurang ajar minta disleding.
Untuk beberapa waktu dirundung suasana duka tiba-tiba hatiku berubah merasakan kesal sekaligus marah. Akward menghadapi tingkah Jenny yang tak tau sikon ini.

"Yaa!! Suka sekali kau menggoda Rainn.."
"Belain aja terus kesayangan mu itu!" Ujar Jenny tersenyum miring. Entah mengejek atau apa.
"Aku nggak belain. Kamu aja yang reseknya nggak habis-habis."
"Ehh.. pake acara nyangkal segala.. apa jangan-jangan selama ini lo suka ama Rain ya Rim?." Ceplos Jenny sekenanya.
Mendengar ucapan Jenny sontak aku melotot kearahnya. Biar saja jika mataku lepas nanti.

"UDAH GILA LO YA!!!" Ucap ku dan Rima hampir bersamaan dengan nada lebih tinggi 2 oktaf dari pada rima sebab suaraku terbilang nyaring.

Pletakkk
"Auhhh.. sakit Rainn."
"Goblok lu emang..!" ucapku berusaha pemukulnya lagi namun kuurungkan saat melihatnya cukup kesakitan mengusap kepalanya.

"Maaf-maaf.. tadikan bercanda."
"Bercanda mu nggak pas." Ujar Rima seolah malas tau pada Jenny.

"Halahh.. selera humor kalian aja yang payah." tukas Jenny tak terima.
"Udahh ahh.. aku mau ketoilet.."
"Eh mau ngapain?" Cegah Jenny menahan tanganku.
"Mau bantu nenek-nenek nyebrang jalan terus nyari sincan suruh nemuin doraemon buat pinjam pintu ajaib biar bisa bantu boruto ngalahin klan otsusuki!. Ya buang air kecil lah pe'ak!." Mudah sekali jenny membuatku emosi dalam sekejap.
"Ikut.." ucap mereka berdua.
"Nggak usah.. bentar doang kok." Akupun pergi meninggalkan Rima masih lengkap dengan Jenny yang terus saja ngebacot nggak jelas.


Sesampainya di toilet aku hanya membasuh wajahku menggunakan air dari wastafel. Dengan ini berharap mukaku kembali segar. Hah? Buang air kecil? Itu hanya alasan menghindari Jenny yang mulai resek mode on.

"Ini semua gara-gara lo linn!!"
"Kok gue sih?! Gue nggak ngelakuin apa-apa."
"Nggak ngelakuin apa-apa lo bilang? Muna banget lo ya!."
Sayup-sayup kudengar suara perdebatan dua wanita dengan nada penuh penekanan dari dalam salah satu bilik toilet yang tertutup membuat acara merapikan diriku terhenti. Apa yang mereka bicarakan? Bukan maksudku ingin menguping, aku hanya penasaran, Itu saja.

"Maksud lo apa sih?."
"Elo kan yang suruh rendi deketin si Ica?."
Tunggu, ica? Aku tak salah mendengarnya kan? Mengapa mereka membahas ica disini. Apa kaitan mereka dengan ica? Merasa ini hal penting aku memutuskan untuk mengendap dan masuk disalah satu bilik untuk lebih dekat dari mereka.
Aku terus berusaha mendengar obrolan kedua wanita itu yang memang kalau didengar-dengar suara mereka tak asing lagi bagi ku. Sudah pasti mereka Linda dan Dinda yang juga teman sekelas ku.

"Gu- gu gue.."
"Gue apa? Ngomong yang jelas! Gila ya!! Ini semua gara-gara lo tau nggak? Rencana kita berantakan."
"Lo terus-terusan nyalahin gue?? Elo sendiri benci sama ica dan setelah dia mati ngapain sekarang jadi belain dia hah? takut digentayangin? Sok suci banget lo!!."
"Iyaa emang bener gue benci ama dia. Tapi gue nggak sesinting elo yang sampe nyuruh rendi buat deketin dia dan nidurin dia sampe akhirnya dia hamill. Otak lo taro dimana lin? Nggak nyangka gue!!."
"asal lo tau ya, gue juga nggak ngira kalo itu bakal jadi kayak gini din"
"Makanya ngotak jadi orang! Parah lu nggak ngerasa salah sama sekali!."
"...."
"udahlah.. baiknya sekarang lo nggak usah lagi deh anggap gue temen lo. Gue nggak mau punya temen pembunuh kayak lo. Najiss gue!!."
"Iyaa gue pembunuh!! Puas lo puass?"
"Iya gue puass.. puas bengett!!!"
Brraakkkkk!!!

Kulihat Dinda membanting pintu toilet dan pergi dengan keadaan penuh amarah setelah pertengkaran mereka barusan.
Tak lama berselang kulihat Linda yang keluar dan mencuci tangannya. Ada apa dengan muka datar tak berdosanya itu?.

"Ra_ raiinn..." Linda nampak terkejut melihatku keluar dari salah satu bilik toilet.
"Apa?" Ucapku datar menatapnya.
"E e elo sejak kapan lo ada disini?."
"Sejak tadi." Jawabku singkat berdiri santai disampingnya sembari membasuh tangan diwastafel. Berusaha bertingkah sewajar mungkin meski aku sendiri sedang berusaha mati-matian menahan emosi. Ingin sekali aku menghajar mukanya habis-habisan.

"Ini nggak seperti yang lo denger rain." Ujar Linda lagi masih terlihat gugup. Matanya tak berani untuk sekali pun menatapku. Wanita berwajah imut dengan style rambut short haircut itu ternyata tak sepolos kelihatannya. Dirinya lebih kejam dari pada iblis. Sial!.
"Gue udah denger semuanya. Sekarang apa yang mau lo jelasin? Yang gue denger tadi udah sangat lebih dari pada kata jelas." Ujarku singkat jelas dan padat.
"Nggak.. nggak Rain, loo salah.. gue nggak bisa biarin ini.. " Linda terlihat beberapa kali menggelengkan kepalanya lalu kemudian lari keluar berusaha kabur dariku.
"Ehhh mau kemana lo woyy!!" Aku pun segera mengejarnya.

Adegan kejar-kejaran pun terjadi disepanjang lorong dan cukup menguras tenaga sebab lari dari wanita pendek itu lumayan cepat juga, tapi sayangnya tak lebih cepat dari lariku yang sudah menjuarai olimpiade sprint tingkat nasional.

"Linn.. lo harus tanggung jawab atas semua perbuatan lo.." ucapku begitu aku berhasil meraih tangannya saat hendak lari menuruni tangga lantai 2.
"Nggk!! Lepass!! Lepasinn gue raiinn!!" Linda memberontak berusaha penghempaskan tanganku dan terus berteriak membuat beberapa murid berhamburan keluar melihat kami.
"Gue nggak akan lepasin lo!." Tegasku memperkuat cengkaraman tanganku.
"Lepass raiinn!!!" Linda masih kekeh dengan sekuat tenaga memberontak. Lalu entah energi dari mana ia menjadi kuat dan dengan sekali hentakan ia mendorongku hingga genggamanku terlepas. Akibat dari dorongan kuatnya terpaksa aku mundur selangkah dan itu membuat kakiku terkilir.

Rraiinnn!!!

Awass...

Raaiinnn!!!

Kudengar suara histeris Rima dan beberapa teman seangkatanku meneriakiku saat badanku mulai kehilangan keseimbangan.

Bruuukkk..

Benar saja aku terjatuh. Badanku terguling, aku tak dapat mengontrolnya untuk tidak terus merosot kebawah sampai tubuhku benar-benar menghantam keras lantai dasar.

Ahhhkkgg...
Leguhku kesakitan dan memuntahkan darah segar.
Badanku terasa remuk seperti tertimpa beban ratusan ton, tulang rusukkupun terasa sangat sakit, bersamaan dengan itu pula aku juga merasakan nyeri yang sangat hebat dibagian kepala belakangku membuat pandanganku mulai kabur. lalu tak lama kemudian duniaku berubah menjadi GELAP. Dalam sekejap aku tak dapat melihat dan mendengar teriakan teman-teman ku lagi.

Akankah hidupku berakhir seperti ini?



Rainn...

Raiinn..

Rainnara sinb...

Mendengar namaku dipanggil sayup-sayup aku mulai membuka mataku. Dimana ini? Seluruhnya terlihat putih  tak ada apapun selain banyak sekali pintu-pintu penuh warna dan jenis yang berada disekelilingku. Apa aku ini sudah mati?

Rain..

Mendengar namaku dipanggil sekali lagi akupun membalikan badanku. Betapa terkejutnya aku saat melihat Ica berada dihadapanku, ia mengenakan gaun putih. Ia telihat sangat begitu cantik.

"Ica.. ini kamu?" Tanpa basa-basi aku menubruknya. Memeluk tubuhnya begitu erat.
"Maafkan aku.. seandainya aku ada disampingmu_ hikkkss..." Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku dan memilih terisak dalam pelukan ica.
"Maafkan aku.. maafkan akuu.." hanya dua kata itu yang dapat kukatakan saat ini. Hatiku begitu hancur. Entah apa lagi yang harus kujelaskan dengan kata-kata.
"Rainn.. Terimakasih telah menjadi temanku selama ini, kau tak bersalah atas kejadian yang menimpaku... Ini belum waktumu untuk meninggalkan keluarga serta teman-teman. Kembalilah.." Ujar ica kemudian melepas pelukanku. Iya pergi begitu saja meninggalkan ku dan berjalan menuju pintu berwarna putih yang penuh ditumbuhi bunga daisy.
"ICAA ICCAAA !!!" aku berlari mengejar ica. Berusaha masuk dipintu yang sama namun bukannya jalan seperti yang tadi terlihat, aku malah terperosok kedalam jurang gelap tanpa dasar.

AAaaaaaa....

Aku berteriakk semampuku karena aku takut. Sangat takut.

UuAaaaaaaa....

Deggg...

Hosshhh... Hoossshhh...
Aku tiba-tiba terbangun dari tempat tidur dengan nafas terengah. Akupun terduduk, entah mengapa aku terdorong untuk menyentuh dadaku dan aku merasakan jantuku yang kembali berdetak sangat kencang.

"RAIINN.. kamu udah sadar rainnn??." Seorang wanita memelukku. Aku tak begitu terkejut sebab Rimalah yang tengah memelukku erat saat ini.
"Aku dimana?" Tanyaku padanya begitu ia melepas pelukannya.

Aku mencoba mengedarkan pandanganku dan mendapati beberapa alat medis menempel pada tubuh serta hidungku. Selain itu juga aku melihat ibuku sedang tertidur diatas sofa, tapi ada satu yang terlihat asing, siapa dua wanita aneh berkulit pucat dengan baju putih yang berada dipojok ruanganku ini?

"Kau dirumah sakit. Aku merindukanmu, sudah satu bulan kau tak sadarkan diri."

Degg..

Mendengar penuturan Rima sepontan membuatku terkejut. Satu bulan? Selama itu kah?.



"dan dimulai dari rumah sakit itu aku mulai melihat hal-hal yang tak dapat kalian lihat. Nah jadi seperti itulah cerita mengapa aku tiba-tiba menjadi indigo, sampai saat ini."

"Wahhh.. menakjubkan sekali." Jawab seorang wanita berjas cream diiringi tepukan beberapa orang.

"Ckk.. apanya yang menakjubkan? Mengerikan iya!." Ujar Rain pada salah satu pembawa acara TV swasta yang tengah mengadakan live show untuk sebuah acara bertema dunia lain.

Kumpulan Puisi dan Parafrasenya

1.       Guru Guru Jasamu sangatlah mulia. Setiap hari tanpa mengenal lelah. Mengajarisampai kami bisa. Guru Jasamu tiada ta...