Cerpen
karangan: Siti Shobihatul Muyassaroh(Mayy'De 69)
Kategori: Cerpen Horor (Misteri), Cerpen Remaja
12 Desember 2013
Kamis sore
Seperti biasa, saat itu aku sedang
berada dirumah menikmati hari akhir libur sekolahku dengan keadaan rumah yang
sedikit berbeda, terasa sunyi dan sedikit terasa hampa karena hawa dingin dari
gerimis yang melanda kotaku sejak siang tadi.
Melihat keadaan sekeliling ku
tiba-tiba aku menjadi kembali teringat kata-kata dari beberapa temanku
disekolah bahwa seindah apapun rumahmu tetap saja akan terasa menyeramkan jika
sedang sunyi. Benar saja aku mulai sedikit gelisah sekarang.
Aku tak mengetahui mengapa
ruangan ini mendadak sepi layaknya rumah tak berpenghuni. Seperti tak
wajar saja karena kenyataannya aku berada dirumah ini tidak sendirian, aku
masih ditemani kedua teman absurdku. Memang sih tak ada orang lain lagi selain
mereka dan kebetulan ayah serta ibuku sedang tak ada di rumah karena menghadiri
acara pernikahan dari salah satu anak kolega ayahku. Ku dengar-dengar ia
bernama roje, oje, oca atau siapalah itu, aku lupa namanya.
"Serius
sekali mereka..." Batinku saat aku sesekali melirik
kearah dua temanku yang entah mengapa menjadi diam sejak beberapa puluh menit
yang lalu. Namun ku dapati pula mereka masih saja betah memelototi layar
komputer ku. Aku berharap saja mata mereka tidak lepas nantinya.
Aku sendiripun sebenarnya sedikit
merasa aneh dengan tingkah mereka yang tak biasa itu. Bagaimana bisa mereka
serius sekali menatap layar komputer ku tanpa berniat sedetikpun untuk
berpaling? Biasanya mereka paling senang sekali membuat keributan hanya
dikarenakan hal-hal kecil seperti ribut berdebat masalah tentang editan format
font yang salah satu dari mereka tidak menyukainya namun tetap kekeh untuk
dipertahankan atau malah ribut protes dengan ekspresi wajahku yang kadang
terlihat lucu didalam video itu.
"Ehh.. rain!! raiinn!!." Tiba-tiba saja
jenny mengguncangkan tubuhku tidak santai.
Perlakuannya itu telah sukses mengagetkanku yang
sempat asik berselancar di media sosial menggunakan ponsel pintar ku.
"Apaan sih jenn!!" Tukasku sedikit ngegas
karena memang dia menyebalkan sekali.
Baru saja aku mengatakan mereka
tidak berisik namun belum selesai aku menutup mulutku mereka sudah membuat
keributan yang aku sendiripun tak tau apa penyebabnya.
"Rain.. sini deh buruann!!" Kali ini rima
yang melambaikan tangan kearahku mengisyaratkan aku untuk menghapiri nya, namun
yang membuatnya terlihat cukup aneh ia masih tetap saja fokus pada layar
komputer ku menatap video yang ia pause sebelumnya.
"Lama deh.. lolak banget sih!!" Jenny yang
terkenal anak paling tidak sabaran kini menarik tubuhku secara paksa dan
membawaku mendekati meja komputer yang berada tak jauh dari ranjang tempatku
duduk sebelumnya.
"Kenapa? Udah selesai ngeditnya?" Tanyaku
polos begitu duduk di kursi yang sempat jenny tempati awal tadi.
"Ya belum lah.. lu pikir gampang apa ngedit
beginian?!." Jawab jenny nyolot nggak jelas.
Padahal tujuanku bertanya pada rima
tadi. Tapi kenapa yang jadi emosi jenny? Aneh dehh! Jarang emang spesies
manusia cungkring yang nyolotannya banget kayak dia!.
"Terus ngapain manggil-manggil coba?."
Balasku sedikit kesal.
Muak saja dengan mereka. Padahal
sebelumnya aku mengatakan bahwa aku ingin istirahat karena diriku sedang tidak
enak badan. Namun kenyataannya seolah mereka itu tak mengizin kan ku untuk
beristirahat. Mustahil memang jika mengharapkan manusia-manusia seperti
mereka ini untuk tidak menggangguku.
"Ih emang ya ni or-"
"Ribut aja terus ya! Gue tampol nih orang
lama-lama!!." Jenny tiba-tiba terdiam mendapati ancaman dan tatapan dingin
dari rima yang sudah dalam 'evil' mode on.
Aku dapat melihat rima yang berubah
menyeramkan dengan aura disekitar tubuh rima yang berubah menjadi gelap bahkan
kini berwarna hitam pekat. Untuk duduk sedekat ini dengannya sudah cukup
membuatku merinding dan ingin ngacir kabur begitu saja akibat sikap rima yang
tergolong jarang sekali marah. Dan kejadian langka seperti ini aku hanya akan
melihatnya sekali dalam sebulan dengan mood rima seperti itu atau bahkan tidak
sama sekali.
"Udah ributnya?, sekarang coba deh rain, kamu
perhatiin baik-baik video ini." Atensiku kini beralih pada video yang rima
putar kemudian.
Aku dapat melihat diriku berdiri
ditengah hiruk-pikuk orang berjalan dengan memegang sebuah mic kecil berwarna
hitam. Video itu mengingatkan ku pada beberapa hari lalu. Kebetulan itu
bertepatan pada hari festival kuliner yang diadakan di kotaku dan disitu aku,
rima dan jenny memutuskan untuk membuat video vlog baru untuk ku unggah
dicannel YouTube kami.
"Hai gaes..
sampai disini saja ya perjanan kita hari ini. Sebelum mengakhiri video ini saya
ingatkan jangan lupa comment dan klik ikon tanda jempol keatas jika menyukai
video ini karena satu like dari kalian merupakan tanda dukungan dan dorongan
semangat kalian untuk kami dalam membuat konten-konten selanjutnya."
"Dan bagi
kalian yang baru menonton video... ini jangan lupa untuk subscribe dan
nyalahkan tombol lonceng kalian agar tidak ketinggalan video-video menarik kami
berikutnya... Saya rainnara sinb beserta kru lainnya mengucapkan terimakasih
telah menonton video ini sampai akhir... Bye bye.. anyeong..."
Klik..
Aku melihat rimapun mematikan potongan videoku yang
ia putar barusan.
Aku terdiam sejenak setelah
menonton video itu. Aku berusaha mencari apa yang sebenarnya rima dan jenny
ingin tunjukan padaku, namun hasilnya nihil. Otak dan mataku tak cukup jeli
untuk mencari dimana letak permasalahan, apalagi keanehannya. Hanya saja yang
aku tau bahwa video itu masih original, aku berani bertaruh kalau video itu
sama sekali belum diedit sedikit pun oleh rima selaku editorku, itu saja.
"Bagaimana?." Tanya rima padaku, dengan
hanya melihat sorot mata dan mendengar nada bicaranya saja aku sudah tau rima
saat ini sedang serius padaku.
"Apanya yang bagaimana?." Tanyaku balik.
Heran. Aku masih bingung dan tak
faham maksud dari rima yang satu ini.
"Ck.. videonya lah rain!!..." Sahut jenny
yang sempat diam dan asik menikmati posisi berdiri sambil berkacak pinggang
karena memang nggak kebagian kursi itu kini mulai bersuara lengkap dengan nada
sewot khasnya.
"Ohh videoku? Ya jelas kerenlahh.. cantiikkk...
Rainn gitu lohhh.." jawabku sekenanya, menegakkan duduk sambil sesekali
mengibaskan rambut cokelat panjangku penuh percaya diri.
Pletakkk..
"Emang yah ni orang dodol bangett sihh ya
ampun!!" Bukan, itu bukan rima. Rima tak sekasar itu padaku.
"Apaan sih jen.. mukul-mukul kepala orang,
sakit tau!!" aku menatap tajam kearah jenny dengan terus berusaha membalas
perbuatannya barusan. Muka jenny memerah padam serta ikut melotot
kearahku, dan aku merasa ia bahkan lebih marah dari pada diriku. Bagaimana
bisa? Pelecehan dalam hubungan pertemanan ini namanya! Harusnya aku yang marah.
si cungkring gila satu ini benar-benar sukses membuatku emosi. Aku tak habis
fikir, mana ada sih manusia seperti dia? dasar anaknya pak mahmud!!
"Bisa nggak jangan berisik jenn?.." lerai
rima memutar bola matanya malas, aku sempat berfikir mungkin dirinya terlalu
bosan menghadapi sikapku dan jenny yang tergolong tidak pernah akur.
"Kok aku sihh rim?.." jawab jenny berusaha
membela.
"diem nggak?!"
"Iihh..
tapi kan rim.."
"Diemm.."
"....."
Untuk beberapa saat aku memilih
diam dengan terus mengelus kepala keyanganku yang terasa nyut-nyutan.
Kemudian aku mulai menyadari satu fakta setelah lama hidup bertahun-tahun dibumi.
Bahwa hanya rima dengan tatapan dinginnya lah yang mampu membungkam mulut
berisik jenny. Tidak dengan kedua orang tuanya, tidak dengan kakaknya dan tidak
sekalipun juga dengan saudara-saudaranya, apalagi dengan diriku.
"Iisshh..
apasih nyenggol-nyenggol!!!.."
"Elu sendiri ngapain juga deket-deket ama gue
sih!." Dan terjadilah adegan saling senggol antara diriku dan jenny.
"Nggak usah banyak berantem deh, liat kalian
yang kayak gitu terus aku lama-lama jadi pengen jodohin kalian tau?." Tak
habis pikir aku akan ucapan rima, aku mulai ragu sebenarnya apa saja isi otak
cerdas rima selama ini.
"Amit-amit rim amit-amit!! Najiss.."
"Aku serius rain.." Rima menatapku datar
yang masih terus saja komat-kamit. Jadi dugaanku memang benar kalau selama ini
ada sesuatu tak beres yang berserang didalam kepala rima.
Gila aja aku dijodohin sama perempuan.
"Nah... kalo kalian diem gini kan enak. ok,
sekarang balik lagi kelayar."
"Rain, sekarang kamu lihat ini baik-baik. Lihat
kamu yang ada disini, lihat juga orang yang disekitar kamu dan lihat payung
yang ada dibelakangmu itu." Tunjuk rima. Rima mencoba untuk mem pause
kembali video tadi dan membuat lingkaran merah tepat pada bayang ku. Kemudian
tak lama dirinya juga membuat lingkaran yang lain namun berwarna putih di
bayangan orang dan benda-benda lain selain diriku.
Aku termenung sesaat
memperhatikannya penuh konsentrasi. Berusaha berfikir kritis dan jeli. Tak
butuh waktu lama...
Satu yang membuat jantungku sempat berhenti sejenak
karena terkejut. Tenggorokanku tercekat tak mampu berkata-kata. Bagaimana bisa?
Aku melihat bayangan matahari diriku yang memiliki tempat paling berbeda arah
diantara mereka. Aku berusaha mengedipkan mataku beberapa kali untuk
memastikan, dan itu benar adanya.
"Udah faham kan?." Ujar rima menyadarkanku
dari lamunan.
"Rim.. nggk usah bercanda deh.. nggak
lucu!" Aku berusaha untuk memikirkan kemungkinan lain yang terjadi dan
salah satu kemungkinan itu adalah rima kini tengah mengerjaiku.
"Kamu lihat aku bercanda rain? Nggak
kan?."
"Efek sudut pengambilan kamera kalii, gimana
jen?, kamu kan kameramannya. Jadi kamu tau dong haha... " Tukasku lagi,
aku berusaha untuk tertawa agar sedikit meredakan rasa gugup ku yang sudah tak
terbendung lagi.
"Rainn.. kita nggk becanda rainn.. kita serius,
pikir rain.. pikir ..." kali ini jenny menatap kearahku, berbeda dengan
tadi. Dari matanya aku dapat melihat dirinya mulai khawatir padaku.
"Dua hari lalu kita ngambil video ini tepat jam
tiga sore. Itu artinya bayangan akan lari kearah kanan. Seperti yang kamu lihat
itu rain.. dimenit 00:00-50:29 semua bayangan benar berada disebelah kanan.
Tapi lihat dimenit-menit 50:33 - 50:38 ini, itu berarti jam sudah setengah 5
sore dan jika itu benar adanya, bayangan hanya bergeser beberapa derajat dari
kamu berdiri tadi rain. Jika itu efek dari pengambilan kamera yang sama sekali
tidak membelakangi matahari, bayanganmu juga nggak akan tepat berada
dibelakangmu rainn... Nggak akan!." Kali ini rima menjelaskan padaku
singkat jelas dan padat. Setiap ucapannya penuh penekanan, kali ini aku percaya
rima tak akan berbohong padaku.
Mendengar penjelasan rima barusan
aku kembali termenung, entah apa yang aku fikir kan. Tak masuk akal memang,
bagaimana bisa bayangan melawan matahari?.
Aku mencoba menarik nafasku
dalam-dalam. Tak apa, ini tak seburukn itu, toh hal-hal aneh dan kejadian
supranatural seperti itu sudah biasa terjadi? Biarkan saja, buang semua fikiran
negatif rainn!.
"Jadi gimana rain? Mau tetap diupload?"
Tanya jenny terlihat memasarkan semuanya padaku.
"Sudahlah, jangan terlalu difikirkan. Yah,
memang terlihat creepy sih bagi mereka yang menyadarinya nanti." Jawabku
sekenanya.
"Kamu yakin? Tapi Rain.. kata leluhurku itu
pertanda buruk." Ujar jenny menambahkan.
"Buruk apa sih? Kamu mengharapkan hal buruk
terjadi padaku? Jaman sekarang jangan terlalu memercayai mitos ahh!."
Tukasku sedikit tersulut emosi, yang benar saja mereka melebih-lebihkan hal
seperti itu? Lagi pula aku yakin jika umurku masih terlalu panjang hanya untuk
sekedar melewati hari esok.
"Kita batalkan saja project ini, kita bisa
membuat video lain."
"Rima benar rainn.." tambah jenny kemudian
dan mereka saling bertatapan layaknya kekasih. Uhh.. menjijikan sekali.
"Yang benar saja kalian? Besok adalah waktu
kita harus mengupload video. Kalian harus ingat itu. Aku nggak mau kita lewat
dari jadwal mingguan yang udah kita tentuin sebelumnya."
"Rain.. kita bisa saja membuat permohonan
maaf.. aku punya firasat yang nggak baik."
"Jangan mengkhawatirkan diriku, kita bisa saja mengcut
bagian tadi.. jangan buang-buang waktu dan biaya. Percayalah, tak akan terjadi
apa-apa padaku." Aku tersenyum pada mereka dan merangkul kedua temanku ini
hanya untuk sekedar meredakan rasa khawatir mereka yang cenderung berlebihan.
13 Desember 2013
Jum'at pagi.
Aku melangkahkan kakiku perlahan
memasuki gerbang lengkap dengan payung putih ditanganku. sempat aku ingin
berjalan masuk namun ku urungkan sejenak hanya untuk membaca tulisan "SMA
NUSA BANGSA" berwarna emas yang tercetak besar-besar dihadapanku ini.
"Silahkan masuk neng.." ucap lembut pria
paruh baya dengan setelan penjaga sekolah itu.
Kulihat ia tengah memegang sebuah
kardus kira-kira berukuran 30cm x 25 cm. Entah apa itu isinya, yang jelas
nggak mungkin kepala orang kan?.
"Iaa pak makasih..." Balasku tersenyum
manis padanya.
Saat memasuki pekarangan sekolah
aku merasa seperti disambut oleh angin asing yang sengaja menerjang tubuhku
sampai-sampai membuat rokku sedikit basah terkena bulir gerimis dari hujan yang
dibawanya.
Aku berusaha mengabaikan itu semua
dan terus berjalan menuju kelas. Diperjalan aku sempat mengedarkan pandanganku
melihat keadaan sekitar pekarangan sekolah yang tak jauh berbeda dari rumahku
kemarin. Hanya ada beberapa murid yang berjalan menuju area kelas. Sekolah yang
biasanya akan terlihat ramai kini terasa sepi, sangat dingin dan gelap
dibeberapa sisi.
"Haii caa.. lagi ngapain?" Begitu sampai
selasar aku mendapati ica teman sekelasku yang tengah berdiri termenung dipagar
pembatas. kebetulan kelasku memang berada dilantai 3 dan menghadap kearah
lapangan basket.
"Hah? Ahh..
nggak ngapa-ngapain kok." Ucap ica sedikit terkejut akan kehadiranku lalu
tetap berusaha tersenyum yang malah terlihat sangat menyedihkan bagiku.
Aku tak sengaja melihat tangan
kirinya meremas kuat sebuah kertas, entah apa isinya aku sendiripun tak tau,
sikapnya barusan membuatku mulai berfikir bahwa ia tidak baik-baik saja, pasti
ada sesuatu.
"Kamu ada masalah?." Tanyaku lagi berusaha
mendekat dan menyentuh pundak milik siswi kelas 12 SMA ini yang memang terkenal
pendiam dan tertutup dikelas.
"Makasih.. aku mungkin baik-baik saja."
"Yakin? Jangan bohong."
"Iya rain.. udah sana taruh tas kamu
dulu."
"Oh iya lupa hehe.. aku masuk dulu ya, entar
aku balik lagi kok." Aku hendak pergi namun kuurungkan sebab ada sesuatu
yang mengganjal namun tak kuketahui apa.
"Hmmm, ca.. kalo ada masalah cerita sama aku
ya, aku pasti bantu kok jangan sungkan." sambungku lagi sambil
menepuk-nepuk pundaknya.
Akupun meninggalkan Ica didepan
kelas untuk meletakan tasku. Entah mengapa kata-kata ica tadi terus terngiang-ngiang
ditelingaku.
"Mungkin?" Batinku masih berusaha mencerna
ucapannya.
Akibat memikirkan ica aku malah
jadi melamunkan hal-hal tak jelas kearah yang entah-berantah. Namun, lamunanku
itu tak bertahan lama sampai suara benda jatuh dari arah luar mengagetkanku.
Greesakkk...
Bbrruuuggkkk...
Entah mengapa jantungku tiba-tiba
berdegub dengan kencang. Akupun berlari keluar mencari Ica namun nihil. Tak
kudapati siapa-siapa, selasar kelas kosong, Ica tak berada ditempatnya.
Uuuuaaaaaaa...
Aaaaa...
AAaaaa……
Mendengar teriakan histeris
beberapa siswi diarah bawah lapangan basket membuat atensiku beralih kesana.
Aku menurunkan pandanganku kebawah dan.._.
Degg..
Aku merasa jantungku seolah
berhenti. Dadaku sesak seolah dihatam beribu-ribu batu.
Aku melihat ica sudah terkapar tak
bernyawa dipenuhi darah segar yang sudah mengalir kemana-mana akibat terkena
air dari rintik hujan yang turun sejak tadi. Sendi tangan dan kakinya terputar
kebelakang, aku tau itu pasti patah, dan yang paling mengerikan lagi aku
melihat kepalanya hancur sampai memperlihatkan 'isi' kepalanya.
Icaa..
iccaaa.. hatiku seolah memanggil namanya tiada henti.
Ketidak percayaan menggerogoti isi otakku. Beberapa menit lalu baru saja aku
berbincang padanya, kenapa ini bisa terjadi? Aku berusaha menguatkan diriku dan
berlari menuju lapangan basket yang ternyata sudah mulai dipenuh siswa-siswi,
beberapa guru, dan penjaga sekolahan. Tak lama dari itu datang pula mobil
ambulance dan 5 orang polisi yang langsung membuat police line untuk
mengamankan TKP.
Jam istirahat
Setelah kejadian mengerikan yang
membuat seluruh sekolah heboh tadi pagi, pihak sekolah memutuskan untuk tidak
mengadakan kegiatan pembelajaran pada pagi hari. Suasana duka.
Aku dan beberapa mahasiswi
bersangkutan pun tadi sempat dipanggil pihak kepolisia untuk ditanyai beberapa
pertanyaan perihal investigasi kasus Ica. Tak seperti yang lain, aku
satu-satunya orang yang tak terkejut karena aku memang menjadi salah satu saksi
yang sempat berbicara padanya tadi pagi.
"Heiii.. masih betah untuk melamun?" Suara
jenny kini mengambil atensiku. Ia terlihat mengambil tempat duduk disampingku.
Aku menatap Jenny sejenak tanpa
berniat untuk menanggapinya lalu beralih mengedarkan pandanganku kepenjuru
kelas yang terlihat kosong.
“Mungkin mereka
berada dikantin”. batinku.
"Sudahlah Rainn.. apa yang ingin kau cari lagi?
Jangan terlalu memikirkannya. Biarkan dia tenang." Sambung jenny kemudian.
Entahlah, ucapan Jenny barusan
malah membuat suasana hatiku semakin memburuk. Memang aku tak begitu dekat
dengan Ica, apalagi sampai tahu apa yang selama ini ia lewati, yang pasti ia
telah mengalami hidup sulit sampai memutuskan untuk bunuh diri seperti ini.
Hhuuff...
Mengingat itu semua ada perasaan
bersalah yang mulai muncul dalam hatiku. Harusnya aku tadi membawanya masuk
kekelas. Jika saja sejak awal aku peka padanya hal itu mungkin tak akan
terjadi. Bodohnya aku membiarkan dirinya sendirian.
Arrrgghh...
Aku mulai mengacak rambutku
frustasi tak tahan. Kepalaku sakit, rasanya ingin meledak. Sejak pagi tadi
otakku hanya dipenuhi Ica, Ica dan Ica lagi.
"Raiinnn..." Rima yang sejak tadi duduk
tenang dibalakangku kini berjalan kearahku dan memelukku erat.
"Jangan seperti ini, kau membuat kami
khawatir..." Lanjut Rima mengusap kepalaku lembut. Pelukan hangatnya
membuatku tak dapat lagi membendung air mataku yang kutahan sejak tadi.
Menangislah aku sejadi-jadinya dipelukan dua sahabatku ini.
Setelah beberapa waktu meluapkan
emosiku dengan cara menangis hatiku mulai merasa lega. Ini terasa lebih baik
meskipun masih sedikit terasa sesak dan aku harus berusaha sebaik mungkin untuk
menutupinya.
"udah puas nangisnya?." Tanya jenny yang
melihatku mulai tenang namun masih berada dalam rengkuhan Rima.
Aku mengangguk sebagai balasan.
"Berjanjilah pada kami untuk tidak menangis
lagi setelah ini!." Ujar Rima menurunkan wajahnya menatapku sambil
menunjukan jari kelingkingnya.
Mendapati sikap manis Rima barusan
akupun tersenyum dan menautkan jari kelingkingku sebagai tanda janji.
"Terimakasih.." ujarku singkat penuh
makna.
"Jangan kayak tadi lagi. Loe itu malah
kelihatan kayak orang gila. Bikin kita khawatir tau nggak? Dasar!" Ucap
jenny kembali pada sifat kurang ajar minta disleding.
Untuk beberapa waktu dirundung
suasana duka tiba-tiba hatiku berubah merasakan kesal sekaligus marah. Akward menghadapi tingkah Jenny yang tak
tau sikon ini.
"Yaa!! Suka sekali kau menggoda Rainn.."
"Belain aja terus kesayangan mu itu!" Ujar
Jenny tersenyum miring. Entah mengejek atau apa.
"Aku nggak belain. Kamu aja yang reseknya nggak
habis-habis."
"Ehh.. pake acara nyangkal segala.. apa
jangan-jangan selama ini lo suka ama Rain ya Rim?." Ceplos Jenny
sekenanya.
Mendengar ucapan Jenny sontak aku
melotot kearahnya. Biar saja jika mataku lepas nanti.
"UDAH GILA LO YA!!!" Ucap ku dan Rima
hampir bersamaan dengan nada lebih tinggi 2 oktaf dari pada rima sebab suaraku
terbilang nyaring.
Pletakkk
"Auhhh..
sakit Rainn."
"Goblok lu emang..!" ucapku berusaha
pemukulnya lagi namun kuurungkan saat melihatnya cukup kesakitan mengusap
kepalanya.
"Maaf-maaf.. tadikan bercanda."
"Bercanda mu nggak pas." Ujar Rima seolah
malas tau pada Jenny.
"Halahh.. selera humor kalian aja yang
payah." tukas Jenny tak terima.
"Udahh ahh.. aku mau ketoilet.."
"Eh mau ngapain?" Cegah Jenny menahan
tanganku.
"Mau bantu nenek-nenek nyebrang jalan terus
nyari sincan suruh nemuin doraemon buat pinjam pintu ajaib biar bisa bantu
boruto ngalahin klan otsusuki!. Ya buang air kecil lah pe'ak!." Mudah
sekali jenny membuatku emosi dalam sekejap.
"Ikut.." ucap mereka berdua.
"Nggak usah.. bentar doang kok." Akupun
pergi meninggalkan Rima masih lengkap dengan Jenny yang terus saja ngebacot
nggak jelas.
Sesampainya di toilet aku hanya
membasuh wajahku menggunakan air dari wastafel. Dengan ini berharap mukaku
kembali segar. Hah? Buang air kecil? Itu hanya alasan menghindari Jenny yang
mulai resek mode on.
"Ini semua
gara-gara lo linn!!"
"Kok gue
sih?! Gue nggak ngelakuin apa-apa."
"Nggak
ngelakuin apa-apa lo bilang? Muna banget lo ya!."
Sayup-sayup kudengar suara
perdebatan dua wanita dengan nada penuh penekanan dari dalam salah satu bilik
toilet yang tertutup membuat acara merapikan diriku terhenti. Apa yang mereka
bicarakan? Bukan maksudku ingin menguping, aku hanya penasaran, Itu saja.
"Maksud lo
apa sih?."
"Elo kan
yang suruh rendi deketin si Ica?."
Tunggu, ica? Aku tak salah
mendengarnya kan? Mengapa mereka membahas ica disini. Apa kaitan mereka dengan
ica? Merasa ini hal penting aku memutuskan untuk mengendap dan masuk disalah
satu bilik untuk lebih dekat dari mereka.
Aku terus berusaha mendengar
obrolan kedua wanita itu yang memang kalau didengar-dengar suara mereka tak
asing lagi bagi ku. Sudah pasti mereka Linda dan Dinda yang juga teman sekelas
ku.
"Gu- gu
gue.."
"Gue apa?
Ngomong yang jelas! Gila ya!! Ini semua gara-gara lo tau nggak? Rencana kita
berantakan."
"Lo
terus-terusan nyalahin gue?? Elo sendiri benci sama ica dan setelah dia mati
ngapain sekarang jadi belain dia hah? takut digentayangin? Sok suci banget
lo!!."
"Iyaa emang
bener gue benci ama dia. Tapi gue nggak sesinting elo yang sampe nyuruh rendi
buat deketin dia dan nidurin dia sampe akhirnya dia hamill. Otak lo taro dimana
lin? Nggak nyangka gue!!."
"asal lo
tau ya, gue juga nggak ngira kalo itu bakal jadi kayak gini din"
"Makanya
ngotak jadi orang! Parah lu nggak ngerasa salah sama sekali!."
"...."
"udahlah.. baiknya
sekarang lo nggak usah lagi deh anggap gue temen lo. Gue nggak mau punya temen
pembunuh kayak lo. Najiss gue!!."
"Iyaa gue
pembunuh!! Puas lo puass?"
"Iya gue
puass.. puas bengett!!!"
Brraakkkkk!!!
Kulihat Dinda membanting pintu
toilet dan pergi dengan keadaan penuh amarah setelah pertengkaran mereka
barusan.
Tak lama berselang kulihat Linda
yang keluar dan mencuci tangannya. Ada apa dengan muka datar tak berdosanya itu?.
"Ra_ raiinn..." Linda nampak terkejut
melihatku keluar dari salah satu bilik toilet.
"Apa?" Ucapku datar menatapnya.
"E e elo sejak kapan lo ada disini?."
"Sejak tadi." Jawabku singkat berdiri
santai disampingnya sembari membasuh tangan diwastafel. Berusaha bertingkah
sewajar mungkin meski aku sendiri sedang berusaha mati-matian menahan emosi.
Ingin sekali aku menghajar mukanya habis-habisan.
"Ini nggak seperti yang lo denger rain."
Ujar Linda lagi masih terlihat gugup. Matanya tak berani untuk sekali pun
menatapku. Wanita berwajah imut dengan style
rambut short haircut itu ternyata tak sepolos kelihatannya. Dirinya lebih
kejam dari pada iblis. Sial!.
"Gue udah denger semuanya. Sekarang apa yang
mau lo jelasin? Yang gue denger tadi udah sangat lebih dari pada kata
jelas." Ujarku singkat jelas dan padat.
"Nggak.. nggak Rain, loo salah.. gue nggak bisa
biarin ini.. " Linda terlihat beberapa kali menggelengkan kepalanya lalu
kemudian lari keluar berusaha kabur dariku.
"Ehhh mau kemana lo woyy!!" Aku pun segera
mengejarnya.
Adegan kejar-kejaran pun terjadi
disepanjang lorong dan cukup menguras tenaga sebab lari dari wanita pendek itu
lumayan cepat juga, tapi sayangnya tak lebih cepat dari lariku yang sudah
menjuarai olimpiade sprint tingkat
nasional.
"Linn.. lo harus tanggung jawab atas semua
perbuatan lo.." ucapku begitu aku berhasil meraih tangannya saat hendak
lari menuruni tangga lantai 2.
"Nggk!! Lepass!! Lepasinn gue raiinn!!"
Linda memberontak berusaha penghempaskan tanganku dan terus berteriak membuat
beberapa murid berhamburan keluar melihat kami.
"Gue nggak akan lepasin lo!." Tegasku
memperkuat cengkaraman tanganku.
"Lepass raiinn!!!" Linda masih kekeh
dengan sekuat tenaga memberontak. Lalu entah energi dari mana ia menjadi kuat
dan dengan sekali hentakan ia mendorongku hingga genggamanku terlepas. Akibat
dari dorongan kuatnya terpaksa aku mundur selangkah dan itu membuat kakiku
terkilir.
Rraiinnn!!!
Awass...
Raaiinnn!!!
Kudengar suara histeris Rima dan
beberapa teman seangkatanku meneriakiku saat badanku mulai kehilangan keseimbangan.
Bruuukkk..
Benar saja aku terjatuh. Badanku
terguling, aku tak dapat mengontrolnya untuk tidak terus merosot kebawah sampai
tubuhku benar-benar menghantam keras lantai dasar.
Ahhhkkgg...
Leguhku kesakitan dan memuntahkan darah segar.
Badanku terasa remuk seperti
tertimpa beban ratusan ton, tulang rusukkupun terasa sangat sakit, bersamaan
dengan itu pula aku juga merasakan nyeri yang sangat hebat dibagian kepala
belakangku membuat pandanganku mulai kabur. lalu tak lama kemudian duniaku
berubah menjadi GELAP. Dalam sekejap aku tak dapat melihat dan mendengar
teriakan teman-teman ku lagi.
Akankah hidupku berakhir seperti ini?
Rainn...
Raiinn..
Rainnara sinb...
Mendengar namaku dipanggil
sayup-sayup aku mulai membuka mataku. Dimana ini? Seluruhnya terlihat
putih tak ada apapun selain banyak sekali pintu-pintu penuh warna dan
jenis yang berada disekelilingku. Apa aku ini sudah mati?
Rain..
Mendengar namaku dipanggil sekali
lagi akupun membalikan badanku. Betapa terkejutnya aku saat melihat Ica berada
dihadapanku, ia mengenakan gaun putih. Ia telihat sangat begitu cantik.
"Ica.. ini kamu?" Tanpa basa-basi aku
menubruknya. Memeluk tubuhnya begitu erat.
"Maafkan aku.. seandainya aku ada disampingmu_
hikkkss..." Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku dan memilih terisak dalam
pelukan ica.
"Maafkan aku.. maafkan akuu.." hanya dua
kata itu yang dapat kukatakan saat ini. Hatiku begitu hancur. Entah apa lagi
yang harus kujelaskan dengan kata-kata.
"Rainn.. Terimakasih telah menjadi temanku
selama ini, kau tak bersalah atas kejadian yang menimpaku... Ini belum waktumu
untuk meninggalkan keluarga serta teman-teman. Kembalilah.." Ujar ica
kemudian melepas pelukanku. Iya pergi begitu saja meninggalkan ku dan berjalan
menuju pintu berwarna putih yang penuh ditumbuhi bunga daisy.
"ICAA ICCAAA !!!" aku berlari mengejar
ica. Berusaha masuk dipintu yang sama namun bukannya jalan seperti yang tadi
terlihat, aku malah terperosok kedalam jurang gelap tanpa dasar.
AAaaaaaa....
Aku berteriakk semampuku karena aku takut. Sangat
takut.
UuAaaaaaaa....
Deggg...
Hosshhh...
Hoossshhh...
Aku tiba-tiba terbangun dari tempat
tidur dengan nafas terengah. Akupun terduduk, entah mengapa aku terdorong untuk
menyentuh dadaku dan aku merasakan jantuku yang kembali berdetak sangat kencang.
"RAIINN.. kamu udah sadar rainnn??."
Seorang wanita memelukku. Aku tak begitu terkejut sebab Rimalah yang tengah
memelukku erat saat ini.
"Aku dimana?" Tanyaku padanya begitu ia
melepas pelukannya.
Aku mencoba mengedarkan pandanganku dan mendapati beberapa alat medis menempel pada tubuh serta hidungku.
Selain itu juga aku melihat ibuku sedang tertidur diatas sofa, tapi ada satu
yang terlihat asing, siapa dua wanita aneh berkulit pucat dengan baju putih
yang berada dipojok ruanganku ini?
"Kau dirumah sakit. Aku merindukanmu, sudah
satu bulan kau tak sadarkan diri."
Degg..
Mendengar penuturan Rima sepontan membuatku
terkejut. Satu bulan? Selama itu kah?.
"dan dimulai dari rumah sakit itu aku mulai
melihat hal-hal yang tak dapat kalian lihat. Nah jadi seperti itulah cerita
mengapa aku tiba-tiba menjadi indigo, sampai saat ini."
"Wahhh.. menakjubkan sekali." Jawab
seorang wanita berjas cream diiringi
tepukan beberapa orang.
"Ckk..
apanya yang menakjubkan? Mengerikan iya!." Ujar Rain pada salah satu
pembawa acara TV swasta yang tengah mengadakan live show untuk sebuah acara
bertema dunia lain.